Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 |
Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 |
Koleksi Cerita cinta 2012 |
Koleksi Novel cinta 2012 |
Koleksi Cerpen Cinta Terbaru. Memang cerita pendek (
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 ) itu sangat menyenangkan untuk dibaca apalagi bagi kita yang sedan kasmaran.
 |
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012
|
Oleh karena itulah, pada hari ini DRberita mengajak Anda semua untuk menikmati "
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012" di bawah ini. Pasti sangat asyik terutama bagi Anda yang suka dengan cerita pendek tentang cinta romantis
terbaru di tahun 2012.
Sebenarnya kita bisa membaca
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 di majalah remaja tapi memang membutuhkan biaya yang mahal karena harus beli. Dan cara paling praktis membaca
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 adalah melalui internet seperti di DRberita ini. Murah tapi lengkap.
Cinta memang tema yang ndak ada habis-habisnya dan takan bosen-bosenya jika
kita bicarakan atau ceritakan. Dan
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 adalah solusi terbaik untuk kita membicarakan atau menceritakan tentang cinta. Baiklah, mari kita lansung saja menikmati satu persatu dari "
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012" oleh DR berita. Tentunya Anda harus membaca artikel
Kumpulan Rayuan Cinta Dalam Bahasa Inggris ini agar wacana cinta dan asmara Anda semakin lengkap dan indah.
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 - Cinta Pertama Dan Terakhir
"rio .. turun nak" teriak bunda dari ruang tamu.
"ada apa sih bun ??" teriak rio dari dalam kamar.
"udah kamu buruan kesinii" jawab bunda.
Rio pun keluar kamar dengan malas-malasan, "kenapa sih bun ?? Rio tuh
ca..." kata-kata rio terputus ketika melihat seorang gadis cantik tengah
duduk di sofa. Saat dia melihat rio, dia melemparkan senyum yang sudah
lama tak ku lihat. Seketika itu rasa cape rio hilang. Rio tersenyum.
"Ify??" kata rio tak percaya saat melihat seorang yang sangat rio sayangi. Seorang yang telah ditunggu rio selama 3tahun.
Cinta pertama rio.
"hy yo" sapa gadis itu yang ternyata bernama Ify
"bunda tinggal dulu ya Ify" kata bunda lalu pergi meninggalkan rio & ify.
Rio berlari menuju arah ify lalu memeluknya.
"Ifffyyyy kapan lo pulang?? gue kangeeen banget sm lo" 3tahun lalu Ify
pergi ke singapura untuk berobat tapi rio juga tak tau apa penyakitnya.
"aduh..sakit yo" rintih ify kesakitan karena pelukan rio yang kencang,
"eh sorry fy, abisnya gue kangen banget sama lo" kata rio sambil tersenyum memandang wajah ify.
"haha biasa aja kali yo, gue tau kalo gue tuh ngangenin" kata ify sambil tertawa lepas.
"ih dasar .." kata rio sambil mengacak acak rambutnya
Skip aja yaah...
+++++++++++ keesokan harinya
Rio mengajak ify pergi ke taman, tempat favorit mereka dulu.
"gue gak nyangka lo akan bawa gue kesini lagi" kata ify.
"emang kenapa ?? lo gak suka gue bawa ke sini??" tanya rio penuh curiga.
"eh bukan gitu, gue seneng kok, seneng banget malah" kata ify sambil tersenyum manis.
'apa aku bisa terus sama kamu ? apa aku bisa terus liat senyum kamu itu fy?' batin rio.
Rio memegang tangan ify dan rio bisa melihat raut wajahnya yang berubah
menjadi kaget, perlahan wajahnya mulai memerah. Rio tersenyum kecil.
"3tahun gue nunggu fy, dan gue pengen ngomong sesuatu sama lo sebelum
semua terlambat" rio melihat raut keheranan di wajah ify, orang yang rio
sayang.
"ngomong apaan ??" tanya ify penasaran. Rio tersenyum lembut pada ify dan tetap memegang erat tangan ify.
"apa lo tau perasaan gue selama ini ke lo??
Ify menatapku tak mengerti. Rio pun melanjutkan perkataannya "gue sayang
sama lo ify, sayaaaanggg banget..apa lo gatau ?? apa sikap gue selama
ini belom bisa nunjukin bahwa gue sayang sama lo ??" kata rio
mengungkapkan perasaannya pada ify. Ify semakin tak mengerti
"lo nembak gue ??" tanya ify penuh rasa heran. Rio tersenyum untuk menjawab pertanyaannya yang berarti 'iya'
"hmm..gue pikir pikir dulu boleh ga ??" tanya ify.
"boleh, tapi jangan lama lama ya, ntar gue keburu pergi" kata rio.
"pergi ?? lo mau kemanaa ?? mau pindah ??" tanya ify dengan raut wajah sedih.
"bukan .. udah lo gak perlu tau. pokoknya gue tunggu jawaban dari lo" kata rio menjelaskan.
Suasana sepi beberapa saat, suara hp ify membuyarkan suasana sepi.
"halo ??" ify mengangkat telfonnya "yah, ntar dulu deh maa .... ih iyadeh aku pulang sekarang" ify menutup telfonnya.
Sambil mendesah kecil ify berkata "huh..anterin gue pulang yo" rio menatapnya heran.
"hoh kenapa ?? baru juga bentar" tanya rio pada ify.
"tapi gue disuruh pulang" kata ify dengan wajah cemberut
"oohh..iyadeh gue anter. tapi jangan lupa sama jawaban lo ya" kata rio mengingatkan ify.
"siap bos" kata ify sambil tertawa lepas.
'apa aku bisa ninggalin kamu fy ?? apa aku bisa liat kamu sedih kalo aku ninggalin kamu nanti ??' batin rio.
Rio menggandeng tangan ify menuju motornya dan mengantar ify pulang.
Skiipp..
++++++++++
Rio gelisah, sudah seminggu tak ada kabar dari ify. Seminggu setelah
hari dimana rio menyatakan cinta padanya. Apa dia lupa sama rio ?? Atau
dia kembali lagi ke singapura ?? Lalu bagaimana dengan jawaban dari
pertanyaan rio ??
Tiba tiba kepala rio terasa pusing, darah segar menetes dari hidungnya.
'Oh Tuhan mengapa penyakitku semakin parah sajaa..' batin rio.
Rio membuka lagi map merah pemberian dokter tadi siang. Kangker otak
stadium akhir.Rio melap hidungnya dengan tangan, lalu mengambil motor
dan segera melaju kerumah ify.
Setelah rio sampai, rio melihat ramai sekali rumahnya. Rio turun dan
mulai melangkah menuju halaman rumah ify. 'kenapa semua menangis ?? ada
apa ini' pikir rio.
Saat aku memasuki rumah ify, betapa kagetnya rio melihat sosok seorang
yang rio sayangi terbaring lemas tak bernyawa. Air mata rio pun mengalir
membasahi pipinya.
"Iffyyyyyyy..."tangis rio pecah, rio tak bisa menahan air matanya lagi. Rio terpukul, rio tak bisa menerima kenyataan.
Dari dalam rio melihat acha, adik ify keluar menghampiri rio. Dia
memberikan surat pada rio. Segera rio membuka surat itu, apa isi surat
itu.
Dear rio,
Maafin gue ya, gue harus pergi ninggalin lo.Maaf selama ini gue ga
cerita tentang penyakit gue ke lo, gue cuma ga pengen liat lo sedih.Maaf
gue ga bisa habisin saat terakhir gue sama lo, gue yakin lo bisa tanpa
gue.
Lo mau tau ga jawaban gue ?? gue mau yo, gue juga sayang sama lo. Udah
lama gue nunggu lo nyatain cinta ke gue. Tapi kenapa baru sekarang ??
Gue sayang sama lo yo, tetep senyum ya pangerankuu ..
I love u forever
byee ...
Tangis rio semakin kencang, rio berlari menuju jasad ify yang tergeletak
lemas. Rio mengguncangkan tubuh ify, berharap ify bangun dan memelu rio
"Ifyy,, bangun fyy, bangunnn"
Tak lama kemudian rio merasakan pusing yang teramat sangat, rio
merasakan hidungnya dialiri oleh darah segar. Matanya perlahan tak dapat
melihat apa apa dan kemudian gelap.
Rio melihat ify tersenyum padanya mengajak rio menuju suatu keabadian. Rio memegang tangannya, rio ikut dengan ify menuju surga.
Ify lah cinta pertama dan terakhir Rio. Cinta yg abadi.
==================================================
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 - Demi Valentine
Domie tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya.
“Apakah gue harus mencuri uang?” Sebersit pikiran kerap mengganggu pikiran Domie, setiap kali ia merasakan jalan buntu.
Satu-satunya barang berharga yang dimiliki cuma telepon genggam, hadiah
ulang tahun dari ibunya setahun yang lalu. Jika tiba-tiba benda itu
raib, tak cuma Ibu, tapi seisi rumah pasti akan geger
mempermasalahkannya. Dan tipis harapan untuk bisa memiliki lagi sebuah
ponsel.
“Jika anak-anak lagi istirahat, atau pas jam olahraga di lapangan, gue
bisa menyelinap masuk ke kelas dan mencuri uang dari salah satu tas,”
pikir Domie lagi. Ia tahu, banyak anak orang kaya yang ke sekolah bawa
uang ratusan ribu. “Tapi kalo katahuan? Resikonya gede, bisa dikeluarin
dari sekolah. Dan malunya itu!”
Domie tentu saja tak ingin berbuat konyol. Mencuri bukan cuma konyol,
tapi dosa besar. Domie cepat-cepat menepis pikiran jahat itu. Uang
memang harus ia dapatkan, tapi mesti dengan cara yang halal.
“Dom, elo liburan mau ke mana?” tanya Zetta, yang batal keluar dari kelas ketika dilihatnya Domie masih terpekur di bangkunya.
“Ke mana, ya? Nggak kepikiran sama sekali, Zet. Elo sendiri?” Domie
balik bertanya pada teman sekelas sekaligus tetangga dekatnya itu. Zetta
tinggal satu blok dengan Domie.
“Gue kayaknya harus ngungsi ke rumah Tante di Depok.”
“Emang kenapa? Takut banjir? Emang daerah kita banjir? Enggak, kan?”.
“Enggak, sih. Tapi kebetulan sebentar lagi rumah mau direnovasi. Nyokap
pengen kamar anak-anak dipisah semua. Enak juga ngebayangin bakal punya
kamar sendiri, jauh dari usilnya si Beng, adik gue itu. Tapi jadi repot
selama rumah dibenahi. Mendingan gue ngungsi aja, daripada ntar terpaksa
bantu-bantu jadi kuli bangunan. Hi hi hi....”
Domie cukup kenal dengan keluarga Zetta. Mereka keluarga paling kaya di Blok H. Sebersit pikiran muncul di benak Domie.
“Emang siapa yang bakal ngerenovasi, Zet?”
“Paling juga tetangga-tetangga kita sendiri. Atau orang-orang dari
kampung belakang. Kayaknya sih bukan pekerjaan yang berat. Paling juga
makan waktu seminggu, pas sama masa liburan kita. Jadi ntar, sepulang
dari Depok, rumah udah beres lagi.”
“Bagus deh kalo gitu,” kata Domie.
“Bagus apanya?”
“Eh, elo jadi punya alasan untuk liburan ke Depok.”
“Elo mau juga?”
“Mau apa?”
“Liburan ke Depok.”
“Maksud elo?”
“Yaaa, siapa tahu elo mau nganter gue ke sana.”
Domie tercenung sebentar. “Kayaknya enggak deh, Zet.”
Zetta cemberut.
“Gue mendadak ada rencana baru buat ngisi liburan kita nanti.”
“Uh? Kok mendadak? Elo ngiri, ya?”
“Nggak! Bukan! Gue emang punya rencana.”
“Pasti elo mau nyusun karya tulis, buat diikutin Lomba Karya Ilmiah
pertengahan tahun nanti, ya? Ya udah, kerjain aja!” Zetta mendengus
kesal dan meninggalkan Domie. Domie cuma mengawasi cewek manis itu
menghilang di luar kelas.
***.
Tante Zelda mengawasi cara kerja Domie yang cekatan. Meski bukan seorang
tukang cat profesional, Domie terlihat bisa belajar dengan cepat. Ia
menggerakkan kuas dengan benar, membuat hampir tak ada setitik pun cat
yang menetes di lantai.
“Yang di kamar anak-anak warnanya pink, ya.” Tante Zelda mengingatkan. “Gudangnya tetep kuning aja, biar terang.”
“Iya, Tante.” Domie menjawab sambil terus menyapukan kuas cat ke tembok.
Sebenarnya Domie agak gugup ditunggui Tante Zelda. Di rumah ini ada dua
orang tukang batu dan tiga tenaga serabutan, tapi Tante Zelda lebih
sering mengawasi dan menunggui Domie bekerja. Pasti karena Tante Zelda
merasa paling dekat dengan Domie.
“Mungkin juga karena kasihan,” pikir Domie.
“Kamu nggak dimarahi orangtuamu, Dom?”
“Enggak, Tante. Bapak dan Ibu justru senang karena saya mau bekerja. Jadi kuli juga nggak apa-apa, yang penting halal.”
“Iya, ya. Lagian bagus juga kalo masih semuda kamu udah mau bekerja.
Cuma, apa nggak sayang karenanya kamu jadi kehilangan acara liburan
sekolah kamu?”
“Kebetulan saya nggak ada acara, Tante. Liburan cuma diam di rumah terus juga bosen. Eh, Zetta sama Beng kapan pulangnya?”
“Katanya sih Sabtu sore, dianter tantenya sendiri. Senin, kalian udah masuk sekolah lagi, kan?”
Domie mengangguk. Lalu, “Tapi janji ya, Tante. Tante nggak usah bilang-bilang ke Zetta bahwa saya jadi kuli di sini.”
“Lho, siapa bilang kamu jadi kuli? Kamu jadi tukang cat, dan nyatanya
kamu bisa bekerja dengan baik. Kamu bakal nerima upah yang sepadan,
karena hasil pekerjaanmu emang baik.”
“Iya, tapi tolong nggak usah bilang saya kerja di sini, ya....”
“Kenapa? Malu? Pekerjaan halal kok malu! Di negeri ini banyak yang sukanya mencuri uang rakyat tapi mereka pada nggak malu.”
“Kok Tante ngomongnya jadi ke mana-mana?” Domie menghentikan gerakan
kuasnya. “Saya memang malu kalo ketahuan Zetta saya kerja di sini. Kalo
aja Zetta nggak pergi liburan ke Depok, belum tentu saya sanggup meminta
pekerjaan di rumah ini.”.
Tante Zelda menganguk-angguk paham. Ia bisa memaklumi jalan pikiran
Domie. “Ya wis, kamu terusin kerjamu. Tante tinggal dulu untuk nengok
kerjaan Pak Rodi, ya? Kalo udah waktunya makan siang, kamu harus makan.
Ambil aja sendiri di meja makan dalam. Kamu nggak usah makan bareng
mereka. Oke?”
“Oke, Tante!” Domie merasa senang karena ia sangat diistimewakan di rumah ini.
Domie meneruskan pekerjaannya dengan hati riang. Semangatnya kian tumbuh
ketika ia membayangkan satu masalah akan segera dapat diselesaikannya.
Kado Valentine yang akan dipersembahkannya buat Laudia bukan lagi impian
kosong semata.
Sebuah arloji berbentuk hati seharga tiga rutus ribu rupiah itu adalah
hadiah paling pas buat Laudia di hari Valentine. Hadiah yang harus
ditebus dengan hasil kerja keras dan keringatnya sendiri.
Lagi-lagi Domie tersenyum.
***
Sebuah keributan terdengar dari luar.
“Gue bilang juga apa? Anak kecil maunya ikutan mulu! Damn! Sekarang apa
coba? Baru juga tiga hari udah merengek-rengek minta pulang! Dasar!”
“Udah deh, sabar juga kenapa sih? Beng emang nggak mungkin bakal tahan
terlalu lama kalo nggak dikelonin emaknya!” suara Tante Zelda.
Suara yang satunya lagi siapa?
“Tau begini mendingan dulu nggak usah ikut. Nyesel tujuh turunan deh gue ngajak Beng.”
Zetta?
“Ya udah, kamu boleh balik lagi ke Depok. Beng biar di rumah aja.”
“Huh, liburan tinggal tiga hari ngapain balik ke Depok! Tanggung!”
Ya, siapa lagi pemilik suara cempreng itu kalau bukan Zetta..
Zetta! Oh my God, itu memang Zetta!
“Mau ke mana, Sayang?”
“Nengokin calon kamar baru gue!”
“Eh, tunggu!!! Sini, kita makan dulu. Kamu belum makan, kan? Ini Mama bikin udang saus tiram kesukaanmu. Tunggu!!!”
“Makan aja sama Beng-Beng! Dasar anak mami!”
Terdengar suara kaleng cat kosong terjatuh. Mungkin Zetta sengaja menendangnya.
“Ya Allah!! Dom???!!! Ngapain elo di kamar gue?”
Domie tak berkutik, turun dari tangga segitiga dengan wajah pucat.
“Gue kerja di rumah elo, Zet.”
“Yaaah elo ini! Surprais banget, Dom. Tapi kenapa juga elo nggak
bilang-bilang dari dulu. Kalo tau elo bakal ikutan kerja di sini,
ngapain juga gue capek-capek ke Depok!” Zetta menatap Domie dengan
takjub plus sesal. “Kan gue bisa bantu-bantu elo, Dom. Kita bisa ngobrol
juga.”
“Gue... gue malu, Zet. Gue malu kalo ketahuan gue jadi kuli tukang cat di rumah elo sendiri.”
“Ngapain malu? Halal, kan? Daripada mencuri! Gue malah salut, karena elo
mau kerja keras. Elo nggak cengeng, nggak jaim kayak teman kita yang
lain.”
“Persis seperti ucapan ibunya tempo hari,” batin Domie. “Ibu dan anak sama-sama berhati mulia”
“Tapi tunggu dulu, Dom! Gue jadi curiga sekarang. Elo ini bukan dari
keluarga yang pas-pasan. Ortu elo dua-duanya kerja. Bokap elo guru,
nyokap elo pegawai negeri juga. Lalu buat apa elo memeras keringat kayak
gini?” Zetta menatap Domie tanpa berkedip. Matanya penuh selidik. “Elo
cuman mau nyari sensasi, atau ...?”
“Gue kepepet, Zet.”
“Punya utang maksud elo?”
“Bukan! Gue kudu ngumpulin duit buat beli kado Valentine’s Day bentar lagi.”
Zetta makin melotot. “Hah? Jadi elo lagi mgumpulin duit buat beli kado Valentine?!”
“Iya,” jawab Domie datar. “Nggak mungkin juga kan gue nodong ortu buat beli hadiah untuk...”
“Pacar elo? Elo punya pacar, Dom?”
“Gue mau nembak, Zet. Kayaknya pas banget kalo manfaatin moment Hari Kasih Sayang nanti.”
“Siapa cewek sial yang bakalan elo tembak, Dom? Siapa perempuan malang itu?” Zetta berpaling menyembunyikan wajah pucatnya.
“Laudia.”
“Hah?! Laudia?”.
“Iya. Emang kenapa?”
“Anak kelas 11 B itu, kan?”
Domie mengangguk pasrah.
“Pantesan kalo gitu. Pantesan elo bela-belain kerja keras pas libur
sekolah kayak gini. Nggak taunya elo emang punya tujuan yang menurut gue
rada mustahil. Emang elo mau hadiahi apa?”
“Arloji hati, harganya tiga ratus ribu perak,” kata Domie apa adanya.
Kepalang basah, ia harus mengatakan semuanya pada Zetta. Domie berharap,
Zetta bisa memberinya masukan yang berguna.
“Aduh, romantisnya!” jerit Zetta dalam bisikan. Zetta berharap, Domie tidak mendengarnya.
“Menurut elo gimana, Zet? Cocok enggak? Kalo warnanya pink keliatan norak enggak, sih? Atau malah cocok sama nuansa Valentine?”
“Terserah elo aja!” Zetta keluar dari kamar yang pengap oleh bau cat itu dengan wajah tak sedap dipandang.
Domie terlongong.
Tapi tiga detik kemudian Zetta kembali masuk ke kamar itu.
“Elo ini tolol atau gimana sih, Dom? Elo tau enggak sih, Laudia itu siapa? Dia itu bintang sinetron! Artis! Seleb!”
Domie tersentak melihat betapa marahnya Zetta.
“Lalu elo ini siapa? Cuma anak guru, murid biasa, bukan siapa-siapa! Ngaca doooonk...!!!”
Memucat wajah Domie. Tapi sebelum ia bisa berkata-kata, mendadak Zetta sudah berlari meninggalkannya.
Domie tak tahu, di kamar yang lain Zetta tengah menangis tersedu-sedu
menyesali nasibnya. Hatinya hancur lebur. Zetta tengah membayangkan
betapa indahnya hidup ini jika ia yang akan menerima perhatian dan usaha
yang begitu gigih dari Domie.
Domie memang tak pernah tahu bahwa selama ini Zetta begitu mengagumi dan mengharapkan cintanya..
=====================================================
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 - Melodi Cinta Topan Dan Viela
“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu
suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa
ditukar sama martabak?”
“Mau ke mana, Pan?’ sergah Roni saat dilihatnya Topan buru-buru beranjak dari bangkunya.
“Lo kayak nggak tau aja, sebentar lagi malaikat cerewet itu nongol,
mending gue nyari udara seger di luar. Ntar kalo ada yang bisa lo bantu,
bantuin gue ya?”
“Enak aja lo!” sungut Roni.
“Kan lo temen gue yang baik.”
“Iya deh, iya. Gue tau lo di luar lagi ngincer Viela, kan? Moga-moga aja lo ditolak, biar minum racun serangga, lo!”
“Ha ha ha! Nggak mungkin Meeennn!” Topan buru-buru ngacir keluar.
Bukan cuma guru Killer itu yang jadi alasan Topan, tapi karena jam
ketiga ini, Viela praktek olahraga, jadi Topan bisa ngegodain cewek itu
dari jauh sambil ngeliat body-nya yang keren, kakinya yang mulus dan
terutama senyumnya yang bikin Topan Puyeng itu.
Baru saja Topan sampe di lobby, anak anak kelas Viela baru saja
berhamburan dari kelasnya, suara mereka berisik, seperti burung yang
dilepas dari kandangnya. Topan celingukan nyari Viela, parkit lincah
berkaki mulus yang punya senyum lebih legit dari brownies itu.
Nah itu dia….
“Eh, sempit tauk, enam juta penduduk Jakarta berjubel kayak ikan dalam kranjang….”
“Kayak petugas sensus aja, lo!” ketus Topan sama cewek gendut yang
sengaja nabrak Topan dari belakang, sekretaris kelasnya Viela. Terang
aja, Topan menghalangi jalan cewek itu yang gak mau ribet
dihalang-halangi, yang katanya sih udah lama setengah mati diet buat
ngurusin badannya.
“Liat-liat dong kalo jalan, orang segede aku gini kok gak kelihatan,”
sengit Topan saat cewek gemuk itu masih berkacak pinggang di depannya.
“Eh, elo yang gak liat, celingak-celinguk… nyari siapa lo? Hmm, gue tau, lo mau lihat paha kita-kita kan.”
“Paha…? Paha siapa?”
“Paha sapi!”
“Emang paha lo gede kayak paha sapi!” Topan ngacir.
“Eh brengsek, gue smackdown lo baru tau rasa…!!”
Topan terus ngacir sambil ngetawain tuh cewek.
Tak jauh di depan, Viela lagi jalan gandengan sama teman-temannya.
Jantung Topan berdebar kencang, inilah cewek yang membuat Topan berani
mengorbankan pelajaran Bu Rani, guru Bahasa Indonesia yang galak banget
bin cerewet itu. Daripada bete nerima pelajaran Bu Rani, mending nyari
pemandangan seger di luar, begitu pikir Topan.
“Pan!” Arief tiba-tiba narik tangan Topan.
“Eh Rif, sorry, gue nggak ngeliat lo. Eh salam gue kemaren gimana?” Tanya Topan berbisik ke kuping Arif.
“O… salam lo….”
“Udah lo sampein, kan?”
“Udah, dia cuma senyum doang.”
“Senyum? Gak ada yang laen?”
“Gak ada, malah….” Arif ketawa.
“Maksud lo dia ngetawain gue?’
“Ntar gue sampein lagi yang serius deh….”
“Sialan lo!” Topan buru-buru ninggalin Arif, tapi saat berbalik, jantung
Topan berdebar lagi dengan kencang saat melihat siapa yang sudah
berdiri di depannya, dengan celana training yang pendek ketat. Dia
menyapaku? Pikir Topan gembira.
“Viel….”
“Ada apa Pan, penting banget kayaknya…?’
Mmm… salam gue gimana?” tembak Topan langsung sambil mamerin senyum cute-nya dan tentu saja matanya yang penuh dengan cinta….
“Yang disampein Arif kemaren?”
“Mmm… iya.”
“Sementara gue tampung dulu ya, tunggu aja deh….”
“Kayak kotak saran aja ditampung dulu,” canda Topan sambil garuk-garuk
kepalanya yang gak gatal, salah tingkah. Meskipun jawaban yang terlontar
dari bibir mungil Viela kurang menyenangkan, tapi Topan menganggap itu
masih lebih bagus daripada dicuekin. Saat Viela berlari-lari menuju
lapangan, Topan masih bisa menikmati kaki bagus yang ditumbuhi bulu-bulu
halus itu, yang rambut panjangnya tergerai seakan berkata, “kejarlah
daku topan… ntar kamu kujitak.”
***
“Topan….”
“Ya Bu…,” Topan kikuk, sebel.
“Kenapa kamu suka bolos kalau saya masuk?” Ibu Rani muncul, padahal bukan jam pelajaran dia di kelas Topan.
“Pelajaran saya tidak kamu sukai, katanya haree geneee masih belajar
bahasa Indonesia, kan dari bayi udah bisa bahasa Indonesia. Iya, kamu
yang ngomong begitu?”
“Nggak Bu, bukan saya.”
“Jadi siapa?”
“Roni, Bu, dia juga gak suka sama pelajaran Ibu.”
“Suka Bu, Topan fitnah!” balas Roni teriak.
“Ayo Topan, kenapa kamu tidak suka sama Ibu?”
“Dia lagi jatuh cinta, Bu. Sama anak dua A3, namanya Viela. Pas
pelajaran Ibu mereka olahraga, Topan milih keluar melihat pemandangan
alam katanya, Bu.”
Seisi kelas riuh menertawai Topan.
“Apalagi anak-anak dua A3 kalo olahraga hobi pake celana dan tank top
ketat, Bu!” Tambah Muti yang udah lama diem-diem naksir Topan tapi nggak
pernah direspon Topan.
“Jadi karena alasan itu kamu tidak suka pelajaran Bahasa saya? Ya Topan?” serang Bu Rani.
“Bukan begitu, Bu.”
“Katanya Ibu juga galak, mulut Ibu bawel!”
“Eh, kambing, lo!” ketus Topan.
“Muti, jaga mulutmu, ya!” pelotot Ibu Rani.
Seisi kelas tambah riuh.
“Mulai sekarang Ibu tidak mau lagi ada anak yang bolos di jam pelajaran
Ibu, Cuma gara-gara naksir cewek, pelajaran diabaikan, mau jadi apa
kalian, pacaran aja yang diurusin. Sebentar lagi Ibu masuk, kalian
tunggu dan tak ada yang boleh kaluar! Ngerti?”
“Ngerti Buuu…!!!” jawab seisi kelas.
Topan garuk-garuk kepala, dia gagal kali ini ketemu Viela, dan terutama menghindari pelajaran Bu Rani.
***
“Pan… pan, elo mau traktir gue apa nih?” Roni yang baru abis dari kantin teriak-teriak mencari Topan.
“Ada apa Ron?” Tanya Topan penasaran.
“Traktir gue, pokoknya sampe kenyang!”
“Beres, tapi apa dulu dong?”
“Viela….”
“Kenapa Viela?”
“Tapi traktir gue, ya.”
“Beres, apa aja lo minta deh, pokoknya kalo soal Viela beres….”
“Salam lo diterima, Tanya Arif kalo nggak percaya, dia juga nyampein ke
Arif, tapi karena gue temen sekelas lo, katanya biar lebih cepet, gue
aja yang nyampein.”
“Hah... yang bener?”
“Katanya dia suka sama cowok kayak lo, cuek, cute, berani, ngocol, nekat, dan banyak deh komentarnya.”
“Ah... yang bener lo, Ron!?”
“Samber gledek lo sendirian, kalo gue bohong.”
“Jangan gue sendiri, bareng-bareng dong.”
“Terserah deh pokoknya, usul gue, lo tembak langsung aja, jeger! Jeger!
Jeger! Pulang ntar lo barengin ya, sekalian janjian, ntar malam kan
malam minggu. Kalo nggak lo bisa keduluan gue!”
“Jeger jeger, memangnya nembak celeng.”
Topan bangkit dari duduknya.
“Yessss!!!” teriaknya keras, sampe ludahnya berhamburan ke wajah Roni.
“Sialan lo Pan, hujan lokal nih.”
“Sori... sori, lo tunggu gue, gue traktir semuanya sekarang juga!” Topan lari keluar kelas.
Roni dan anak-anak yang sudah hadir di kelas langsung tereak kegirangan.
Beberapa menit kemudian Topan muncul, dikira Topan bawa makanan enak
seperti brownies kukus dan lemper isi abon dari kantin Bu Sarmila, gak
taunya singkong, ubi, gemblong segede-gede sandal jepit yang biasa
dijual di warung kopi Kang Jaja yang ada di luar sekolahan.
Kontan aja beberapa potong ubi goreng melayang di udara mengenai kepala Topan dan Roni.
Malam Minggu, Topan siap-siap apel. Viela bukan cuma nerima salam Topan,
tapi juga udah nyuruh Topan datang malam Minggu. Dengan kemeja
kotak-kotak biru, celana jeans sedikit belel, sepatu Cole cokelat kulit
kanguru, Topan tampak keren dan macho. Topan dengan gembira melangkah
keluar rumah, senyumnya cerah, seperti langit malam yang penuh dengan
bintang-bintang.
Sampai di rumah Viela, dada Topan berdebar tak karuan, tapi sekuat
tenaga berusaha ditentramkannya. Topan segera memencet bel di pintu
pagar yang sedikit dipenuhi semak bunga bougenville. Beberapa detik
kemudian muncul Viela, rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, dia
memakai jeans sebatas lutut yang ketat dengan atasan T-shirt tak
berlengan.
“Hai, Pan, yuk masuk!”
Topan melangkah masuk, debar jantungnya makin bertalu, tapi berusaha ditentramkannya.
Sehabis menyalakan lampu teras, Viela menyilakan Topan duduk.
“Bentar ya, Pan. Aku mandi dulu.”
“Loh, emangnya kamu belum mandi?”
“Belom, abis kamu kecepetan sih datangnya, baru aja jam tujuh.”
Topan melirik jam tangannya.
“O iya ya, masih sore….”
“Nggak pa pa sih, cuma kamu semangat banget ya kelihatannya, hi hi hi!” Viela terkikik geli.
Topan garuk-garuk kepala.
“Mau minum apa, Pan? Teh, kopi, atau mau yang dingin, atau air putih aja.”
“Mm… nggak usah repot-repot deh, air putih aja.”
“Wah kebetulan, emang adanya cuma air putih kok.” Masih sambil cekikik geli Viela lalu berlenggak-lenggok masuk ke dalam.
Topan garuk-garuk kepala lagi. Kena dia…
.
Nggak lama kemudian Viela muncul, udah ganti baju yang lebih rileks,
nyante banget, Cuma wajahnya kini dipolesi bedak tipis dan bibirnya
merah seger dipakaiin lipstick glossy. Topan terpana….
“Ngomong dong Pan, kok jadi salah tingkah kelihatannya?”
Topan yang biasanya jago ngocol masih terus salah tingkah, bibirnya
bingung mo bicara apa yang enak. Tapi alangkah kagetnya Topan saat
kemudian muncul pembantu membawa nampan berisi dua gelas air putih dan
menyilakannya untuk minum yang dihidangkannya.
“Trima kasih ya, Ma. Kok cuma air putih Ma, kue-kuenya mana?”
Sekujur tubuh Topan kejang-kejang. “Bu Rani….”
“Masih mending air putih, bisa dipake dukun buat ngobatin orang, untung nggak Mama kasih racun serangga sekalian tadi.”
“Ih Mama, jahat banget….”
Bu Rani dengan bergaya pembantu lalu balik ke dalam.
Viela tersenyum geli.
“Ayo Pan, diminum, kenapa?”
“Mm… gue… gue pulang aja deh, Bu Rani… Bu Rani itu nyo….”
“Lo, emangnya kamu nggak tau kalo Bu Rani Nyokap gue?”
Topan geleng-geleng kepala. “ Nggak… gue baru tau sekarang. Sumpah, samber gledek bareng-bareng….”
“Ya udah, nyokap gue baek kok orangnya….”
“Bukan begitu Viel, tapi gue….”
“Gue ngerti, kamu sebel banget sama pelajarannya kan, juga orangnya kan?”
“Viel, jadi kamu membalas salam gue dan nyuruh datang malam Minggu
supaya gue dikerjain sama nyokap kamu, terus supaya besok-besok gue
nggak nakal lagi dan Nyokap kamu jadi nggak repot lagi ngurusin anak
bandel kayak gue?”.
5“Doo… yang perasaan, bukan begitu maksudnya Pan. Kamu gue suruh ke mari
malam Minggu karena kamu cowok istimewa buat gue. Soal Bu Rani yang lo
sebelin itu kebetulan nyokap gue, kan cuma kebetulan doang. Sekarang
tinggal kamu, gimana menurut kamu persoalan kita, kamu suka tantangan,
kan?”
Topan diam sesaat. “Tantangan apa dulu, kalo ditantang Chris Jhon sih gue nyerah,” Topan berusaha bercanda.
“Ya ngambil hati nyokap gue, dong.”
Topan berdiri. Viela terlihat kecewa.
“Salam deh buat Bu Rani, malam Minggu depan kalo gue apel lagi, gue bawain apel.”
“Jangan cuma apel, Pan. Martabak keju kesukaan nyokap gue juga….”
“Mmm… iya deh.” Pantesan Bu Rani gendut, demen martabak keju sih, pikir Topan dalam hati ngedumel.
Dan malam Minggu yang indah pun berlalu, tapi juga malam yang bikin
Topan serba salah. Tadi Topan maunya pulang agak maleman, tapi Topan
ngeliat Bu Rani sering ngintip dari gorden pembatas ruangan, matanya
melotot galak.
***
Topan berubah jadi cowok paling kalem sedunia sejak dia sadar kalau
Viela adalah anak Bu Rani yang disebelinnya, biarpun Topan udah kalem
dan selalu hadir nomer satu di pelajaran Bu Rani, tetap saja dia harus
mengambil hati Bu Rani, caranya udah dijalani Topan dengan membawa
sekeranjang apel New Zealand dan martabak keju, juga martabak telor. Eh
itu malah bukannya membuat Bu Rani senang, tapi dianggapnya sesuatu yang
melecehkan baginya.
“Kamu nggak usah bawa-bawa apel segala, martabak segala, Ibu tahu kamu
suka sama Viela, tapi bukan dengan cara membeli saya, emangnya saya bisa
ditukar sama martabak?”
Topan cuma diam.
“Kalau kamu tahu, sejak SMP Viela sebenarnya sudah saya jodohkan.”
“Dijodohkan Bu, sama siapa? Sama saya?” Topan tersentak.
“Sama kamu? Anak nggak pintar kayak kamu kok mau dijodohin sama anak saya.”
“Jadi mau dijodohon sama siapa, Bu?” Tanya Topan hati-hati.
“Mau tau aja!”
Bu Rani juga selalu melirik Topan kalau dia melihat Topan sedang
menunggu Viela di depan kelas. Jalan ke kantin, pulang bareng, semua
ulah Topan dicurigai. Topan jadi pusing. Menunggu Bu Rani pensiun masih
lama, dipindahin sama pemerintah ke Papua, nggak mungkin. Coba kalo gue
dulu gak sebel sama Bu Rani, mungkin nggak begini jadinya, sesal Topan.
Meskipun Bu Rani kelihatannya baik, dan agak suka becanda, tapi
batinnya, Topan ngerasa dia menolak keras, nggak nerima anaknya
dipacarin, apalagi lewat jalan belakang.
“Pan!” tiba-tiba Roni menepuk bahu Topan dari belakang.
“Topan kaget, disikutnya perut Roni. “Ganggu gue aja lo, sono,” hardiknya.
Lalu Roni cekikikan melihat buku Bahasa Indonesia Topan yang disampul rapi banget, kayak buku anak kelas 1 SD.
“Kusut amat lo Pan. Udah deh, lo cari aja cewek laen, Viela emang cakep,
tapi nyokapnya. Gue heran, Viela cakep, nyokapnya kok ancur. Bokapnya
kali keren, ya, Pan?”
“Nggak tau gue, gue nggak pernah ketemu bokapnya.”
“Kalo lo nyium Viela, terus kebayang bibir Bu Rani yang lebar itu, sama aja nyium bibirnya Bu Rani, lo.”
“Brengsek, lo, Ron.”
Roni cekikikan.
Tiba-tiba Viela muncul di depan pintu, tersenyum. “Gue denger apa yang
kalian omongin. Ntar malam Minggu ke rumah ya Pan, ada hal penting yang
mo gue omongin.”
“Soal apaan Vi?”
“Sekarang apa ntar malam?”
“Sekarang aja deh,” desak Topan.
“Oke… dengerin ya. Bu Rani itu sebenarnya bukan nyokap kandung gue, dia Ibu angkat gue.”
“Maksud lo?”
“Maksudnya lo nggak usah lagi mikirin Bu Rani meskipun dia nggak suka
sama lo, gue sendiri suatu saat nanti akan nentukan masa depan gue
sendiri, kebetulan aja Bu Rani jadi nyokap gue, tapi dia memang baik dan
sayang banget sama gue, udah bikin gue segede ini, seksi lagi.”
“Lantas nyokap kandung kamu di mana?” Tanya Roni penasaran.
“Gue anak adopsi.”
“Adopsi dari mana?” kejar Roni lagi, sementara Topan masih nggak percaya kalau Viela yang dicintainya nggak jelas asal-usulnya.
Viela tertunduk, wajahnya tiba-tiba sedih, Topan dengan prihatin
mendekati Viela dan membelai rambutnya. “Maafin Roni, Viel. Dia kalo
nanya nyeplos aja.”
Viela menggeleng. “Nggak apa apa kok, Pan. Nyokap pernah cerita, yang
ngelahirin gue seorang Ibu kurang mampu, Ibu itu nggak punya uang buat
nebus biaya melahirkan, seminggu setelah melahirkan, katanya dia pergi
minjam uang ke saudaranya dan menitipkan anaknya sementara di rumah
sakit, tapi kemudian dia nggak pernah balik lagi ke rumah sakit. Terus
gue diambil Bu Rani. Kata suster di rumah sakit, perempuan yang
ngelahirin gue cakep, terbukti kan, gue cantik….” Viela berusaha
tersenyum.
Topan juga tersenyum, kembali dibelainya rambut Viela. Kalau cuma Bu
Rani penghalang mencintai Rani, kecil, nggak ada apa-apanya, tegas Topan
dalam hati, tapi Bu Rani kan udah berjasa ngebesarin Viela, lagian
kasihan Bu Rani, sampe sekarang dia belum menikah juga, padahal umurnya
udah hampir lima puluh tahun. Tiba-tiba terbersit rasa kasihan yang
dalam di hati Topan kepada Bu Rani, sementara cinta dan kasih sayang
yang dirasakan Topan kepada Viela pun tambah menggunung, dan Topan ingin
selalu melindunginya setiap saat.
“Topan!” Bu Rani tibatiba sudah berdiri di antara mereka, matanya melotot.
Topan gugup.
“Gue gak ikutan!” Roni langsung menjauh.
Tapi Topan segera menangkap tangan Bu Rani dan menciumnya. “Topan janji
akan menjaga Viela Bu, Topan nggak akan bolos lagi, Topan juga mau kalau
dijadikan anak angkat Bu Rani, Topan senang sama pelajaran Bu Rani….”
Bu Rani menarik-narik tangannya tapi Topan terus menciumnya, hingga
akhirnya Bu Rani Luluh dan membiarkan tangannya diciumi Topan, sementara
Viela tersenyum senang, Topan pasti bisa mengambil hati Bu Rani, mamaku
tersayang, yakin Viela dalam hati sambil menahan senyum melihat ulah
Topan yang masih terus menciumi tangan Mamanya.
Nah itu dia sob artikel saya tentang
Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 yang semoga dapat berguna dan bermanfaat buat sobat semua. Ini dia saya punya satu kisah paling sedih yaitu
Kisah Cinta yang Mengharukan dan jangan sampe sobat nglakuin hal seperti ini deh.. Dan akhir kata dari saya makasih banyak udah mau mampir ke blog saya ini.
===========================================
Wah... sudah puaskah Anda dengan sajian
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 |
Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 |
Koleksi Cerita cinta 2012 |
Koleksi Novel cinta 2012 |
Koleksi Cerpen Cinta Terbaru. Memang cerita pendek (
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 ) di atas sangat menyenangkan untuk dibaca apalagi bagi kita yang sedan kasmaran.
Dan kadang dengan membaca
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 |
Kumpulan Cerpen Cinta Romantis 2012 |
Koleksi Cerita cinta 2012 |
Koleksi Novel cinta 2012 |
Koleksi Cerpen Cinta Terbaru seperti di atas kita bisa mengambil hikmah positif dan pelajaran tentang hal-hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk menjalin cinta dengan baik dan sehat.
Demikianlah artikel
Koleksi Cerpen Cinta Romantis 2012 oleh DRberita yang semoga bermanfaat buat kita semua para penggemar
Koleksi Cerpen Cinta.